Gelar Pamit SMK Bakti Karya Parigi

Kamis 02/05/2019 Hari ini bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, serentak hampir di seluruh indonesia mengadakan sebuah rutinitas yang selalu dilakukan ketika kelas XII dinyatakan Lulus setelah tiga tahun belajar di sekolah. “Perpisahan” mungkin itu kata yang sangat pamiliar bagi seluruh generasi yang telah mengalami pelulusan. Padahal perpisahan disini bukanlah perpisahan kalau satu minggu atau dua minggu kemudian dipertemukan lagi, malah mubajir kan tangisan yang biasanya tidak kita keluarkan. Maka dari itu karna kata perpisahan sudah tidak relevan dengan zaman dan konteksnya memang bukan berpisah SMK Bakti Karya Parigi mengganti kata perpisahan dengan kata Gelar Pamit, dengan tujuan acara ini bukan ajang perpisahan yang akan memisahkan kita dunia akhirat, tapi acara ini adalah awal dari pertemuan-pertemuan yang akan datang, dan lebih mengesankan. Kenangan-kenangan saat bersama jika dikenang memang mengundang air mata, tapi masih banyak lagi drama-drama yang lebih menyedihkan dibandingkan berpisah dengan teman satu sekolah.

“mulai dari sekarang silahkan kalian menonton film drama paling sedih, agar mental kalian terbiasa menghadapi drama-drama kehidupan yang akan kalian dapatkan dan itu lebih pedih dibandungkan sekarang”pungkas Ai Nuridayat dalam pidatonya.

Dalam acara ini, siswa SMK Bakti Karya Parigi dilantik sebagai seorang Peace Worker serta melakukan penandatangan telah menerima beasiswa pendidikan di SMK Bakti Karya Parigi selama tiga tahun senilai Rp 25.838.000.

Dilansir dari Kepala sekolah SMK Bakti Karya Parigi “Jumlah itu merupakan beasiswa pendidikan per siswa selama 3 tahun di SMK Bakti Karya Parigi, selain itu jika yang tiggal di asrama dengan beasiswa asrama itu sekitar 16 juta sekian dalam 3 tahun”ungkap irpan ilmi dalam pidatonya.

Siswa Kelas Multikutural yang berasal dari 6 provinsi ini akan kembali ke desanya masing-masing, untuk membangun desa. Kenapa ? karena  memang itu adalah spirit yang dibangun oleh SMK Bakti Karya Parigi agar siswa lulusannya mau membangun desa, selain memang kebanyakan siswa luar pulau merupakan siswa dari daerah tertinggal di indonesia. Jadi semangat membangun desa terus menggema di hati dan jiwa mereka demi membawa perubahan kearah yang lebih baik.

Acara yang berakhir pada jam 13.00 ini, ditutup dengan poto bersama, tidak ada tangis lagi dalam perpisahan karena ini bukan waktunya berpisah tapi waktunya merencanakan pertemuan-pertemuan baru yang lebih berkesan di masa depan.

Recommended For You

Keluarganesia : Buku Antalogi 1 Kelas Multikultural
Keluarganesia : Buku Antalogi 1 Kelas Multikultural

Keluarganesia, karya tulis pelajar SMK Bakti Karya Parigi, Kabupaten Pangandaran Kementeri

Read more
Seminar : “Perempuan juga harus memikirkan masa depan bangsa”
Seminar : “Perempuan juga harus memikirkan masa depan bangsa”

“Perempuan juga harus memikirkan masa depan bangsa”, ini adalah statemen Imas Masitoh,

Read more
Dapatkan Newsletter Dari Kami

Cart