Pengertian Makanan Khas Daerah

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa di mana memiliki keanekaragaman olahan masakan yang menjadi ciri khas daerah tersebut atau sering disebut makanan khas daerah.

Makanan khas daerah adalah makanan yang biasanya di konsumsi di suatu daerah tersebut. Karakter suatu masakan daerah biasanya mencerminkan karakter masyarakatnya.

Misalnya di daerah pegunungan, karena iklim pegunungan yang dingin dan menghasilkan bahan pangan berupa sayur-mayur, umumnya olahan masakannya berbahan dasar sayur yang disajikan dalam suhu panas dengan rasa pedas identik dengan daerah tersebut, karena tujuan untuk menghangatkan badan. Atau di daerah pantai olahan makanannya banyak menggunakan hasil laut.

Seiring dengan perkembangan jaman, kontak dengan orang dari luar daerah semakin tinggi sehingga melahirkan banyak masakan campuran yang ikut memperkaya produk makanan khas daerah.

Makanan khas daerah memiliki kandungan gizi serta manfaat yang beragam, sesuai dengan bahan baku, bahan racikan tambahan, dan teknik pengolahan yang digunakan.

Bahan utama dari suatu produk makanan khas daerah adalah bahan nabati atau hewani, kandungan nutrisi utamanya terdiri dari karbohidrat, mineral, vitamin, protein, lemak, dan air.

Jumlah komponen-komponen itu berbeda-beda pada masing-masing bahan, tergantung dari susunan, kekerasan, tekstur, cita rasa, dan warna.

Makanan Bahan Dasar Karbohidrat

Karbohidrat adalah sumber kalori utama bagi manusia. Umumnya karbohidrat terdapat pada bahan pangan golongan serelalia seperti beras, gandum, dan umbi-umbian

Contoh makanan khas daerah yang terdapat karbohidrat adalah getuk, nasi liwet, nasi jamblang,dan lain-lain.

Makanan Bahan Dasar Protein

Protein memiliki fungsi utama sebagai zat pembangun. Umumnya terdapat pada hasil hewani seperti pada daging, ikan, telur, susu, dan hasil nabati seperti kacang-kacangan dan hasil olahannya.

Contoh makanan khas daerah yang banyak mengandung protein diantaranya adalah telur asin, ayam betutu, bebek songkem, ayam lodho, dan lain sebagainya.

Makanan Bahan Dasar Lemak

Lemak adalah sumber tenaga kedua setelah karbohidrat. Lemak dapat melarutkan vitamin A, D, E, dan Vitamin K.

Lemak dibedakan menjadi lemak yang dapat dilihat dan lemak yang tidak dapat dilihat.
  1. Lemak yang dapat ditemukan pada mentega, margarin, minyak goreng.
  2. Lemak yang tidak dapat dilihat seperti lemak dari kacang tanah, lemak kemiri, kuning telur, susu.

Contoh makanan khas daerah yang banyak mengandung lemak adalah seperti rendang daging, bika ambon, karena pada proses pembuatannya menggunakan santan kental.

Makanan Bahan Dasar Vitamin

Vitamin berfungsi sebagai memperlancarkan metabolisme, menjadi daya tahan dan kekebalan tubuh.

Sumber vitamin dan mineral yang terdapat pada hasil hewani seperti pada daging, susu, telur, dan sumber vitamin dari hasil nabati seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

Contoh makanan khas daerah yang mengandung vitamin seperti keripik pisang, karedok, gado-gado, keripik sanjay, dan lain sebagainya.

Karakteristik Makanan Khas Tiap-Tiap Daerah

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku dengan kebudayaan yang sangat beragam. Demikian pula dengan hasil alam yang dijadikan sebagai bahan pangan.

Secara umum bahan pangan berasal dari dua sumber yaitu dari bahan pangan nabati dan bahan pangan hewani.

Bahan makanan nabati adalah bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan misalnya pada umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan, dan serealia.

Bahan makanan hewani adalah makanan yang berasal dari hewan, misalnya seperti pada ayam, telur ,daging, ikan, dan susu.

Perbedaan budaya dan bahan pangan yang tersedia membuat pengolahan produk makanan khas berbeda di setiap daerah sehingga menghasilkan aneka jenis produk makanan yang beranekaragam dengan karakter yang berbeda pula.

Ciri Khas Makanan Atau Masakan Daerah

Masakan khas daerah memiliki ciri khas serta karakter tertentu, misalnya seperti di bawah ini

1. Masakan dari Jawa Barat

Jawa Barat termasuk daerah pegunungan yang banyak menghasilkan berbagai macam jenis sayur mayur.

Masyarakat Jawa Barat lebih suka makan sayur-mayur muda yang masih mentah secara langsung dalam bentuk lalap mentah yang disantap bersama sambal.

Olahan sayuran yang masih mentah disebut karedok. Sedangkan yang matang disebut gado-gado. Banyaknya masakan yang terbuat dari ikan, dibuat pepes.

2. Masakan Jawa Tengah

Masyarakat Jawa Tengah banyak menggunakan bawang putih sebagai bumbu dominan dan lebih menyukai rasa manis dibandingkan rasa yang lain. Di daerah Jawa Tengah banyak ditemukan masakan bersantan, seperti makanan khas dari Jawa Tengah adalah gudeg.

3. Masakan Jawa Timur

Masakan olahan masyarakat Jawa Timur banyak memanfaatkan terasi dan petis untuk memberi rasa pada masakan. Dengan rasa yang ada sedikit pedas, masakan Jawa Timur banyak dimatangkan dengan cara digoreng, direbus, dipepes, atau dibakar. Contoh makanan khas dari Jawa Timur adalah rujak cingur, tahu tek, dan masih banyak lagi.

4. Masakan Sumatera

Masakan olahan daerah Sumatra menggunakan banyak bumbu. Sumatra Barat menggunakan banyak lombok atau cabai hingga rasa makanan-nya relatif pedas dan santan kental.

Daerah Sumatera Selatan sangat suka masakan yang asam rasanya. Olahan makanan di Sumatera Selatan banyak dimatangkan dengan cara direbus, dibakar, dan digoreng dengan waktu memasak yang relatif lama. Masakan dari sayur-mayur tidak banyak jumlahnya. Kalau pun ada jenis sayurnya tidak bervariasi.

Sayur yang sering dipakai antara lain daun singkong, kacang panjang, buncis, dan nangka muda. Contoh makanan khas dari Sumatera adalah rendang, mpe-mpe, tempoyak, keripik sanjay, dan masih banyak lagi.

5. Masakan Sulawesi

Masakan olahan di daerah Sulawesi banyak memanfatkan ikan dengan rasa asam pedas. Contoh makanan khas Sulawasi adalah seperti bubur jagung, kaledo, palumara, uvempoi, uta kelo, dan masih banyak lagi.

Teknik Pengolahan Makanan Khas Daerah

Manusia mulai memasak makanannya setelah menemukan dan mengenal kegunaan api.

Dulunya, makanan dimasak dalam sebuah lubang yang digali di tanah. Lubang tersebut kemudian ditutupi tanah liat dan dibakar.

Lalu ke dalam api itu dilemparkan batu-batu panas hingga air mendidih. Air mendidih ini digunakan untuk merebus sayuran, ikan atau daging.

Cara memanggang makanan di atas bara api ini, dilakukan dengan cara menusuk daging atau ikan dengan sepotong kayu dan diletakkan di atas api tersebut.

Merebus dan membakar makanan merupakan adalah teknik-teknik pengolahan makanan yang pertama kali dikenal.

Saat ini sudah ada kemajuan dibidang industri pembuatan alat memasak.

Dengan adanya industri alat masak dapat membantu mengembangkan teknik-teknik mengolah makanan.

Dengan menguasai teknik mengolah makanan, kita dapat menciptakan bermacam-macam resep masakan yang lezat.

Pada hakekatnya memasak adalah suatu proses pemanasan bahan makanan. Tujuan pemanasan tersebut adalah untuk meningkatkan rasa, memudahkan pencernaan, memperbaiki tekstur, meningkatkan penampilan dan mematikan kuman.

Dengan menguasai teknik memasak, kita dapat memilih cara memasak yang sesuai dengan bahan makanan yang akan dimasak sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.

Perambatan Panas Ke dalam Makanan

Perambatan panas dari suatu sumber panas ke dalam makanan yang dimasak dapat melalui tiga cara sebagai berikut

a. Konduksi

Konduksi adalah perambatan panas melalui benda perantara yang saling bersentuhan dengan bahan makanan yang akan dimasak. Misalnya merebus sayuran, dimana air dan bahan makanan saling menyatu

b. Konveks

Konveksi adalah perambatan panas melalui benda perantara dimana panas dari benda perantara tersebut ikut berpindah. Misalnya menggunakan oven, terjadi sirkulasi uap panas.

c. Radiasi

Radiasi adalah perambatan panas melalui pancaran panas langsung dari sumber panas ke bahan makanan yang dimasak. Panas akan langsung ke bagian dalam bahan makanan kemudian menyebar ke seluruh bagian makanan.

Misalnya saat kita memanaskan makanan dingin dari lemari es. Dengan menggunakan oven microwave makanan tersebut akan cepat panas pada bagian luar maupun dalam.

Tiga Teknik Pengolahan Makanan

Dalam mengolah makanan, terdapat tiga teknik pengolahan untuk membuat makanan diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Teknik memasak basah

Ada beberapa jenis teknik memasak basah, diantaranya adalah sebagai berikut.

a. Merebus

Merebus atau boiling adalah memasak bahan makanan di dalam cairan (air, susu atau kaldu) mendidih (kurang lebih 100oc) sehingga gelembung udara pecah di permukaan cairan. Alat yang digunakan dalam merebus adalah panci dengan tutup.

Banyak sedikitnya air serta lamanya merebus tergantung pada bahan makan yang direbus. Perlu diingat agar menjaga sifat-sifat zat makanan yang terdapat di dalam bahan makanan agar vitamin tidak banyak terbuang secara percuma.

Contoh masakan yang direbus adalah urap sayuran, kentang rebus, dan masih banyak lagi.

Teknik-teknik dalam Merebus

Dalam merebus kita mengenal beberapa jenis cara atau teknik. Teknik merebus dibagi menjadi dua yaitu

a. Merebus Teknik Simmering

Simmering adalah merebus bahan makanan sampai titik didih ( kurang lebih 100oc ) kemudian api dikecilkan (kurang dari 100oc), proses merebus masih terus berlangsung. Contoh memasak teknik Simmering adalah pada saat membuat kaldu atau stock. Teknik ini di Indonesia dikenal dengan menyemur.

b. Merebus Teknik Poaching

Poaching adalah merebus bahan makan di dalam air yang sedikit dengan api kecil, temperature kurang dari 100oc. Proses poaching terjadi perlahan-lahan dan sesuai untuk bahan makanan yang mudah dimasak dengan tekstur yang lembut. Contoh memasak dengan teknik poaching dapat dilakukan pada telur, ikan, buah buahan.

2. Menyetup

Menyetup atau stewing adalah memasak bahan makanan di dalam cairan (air, kaldu atau saus) dalam jumlah yang hampir sama dengan bahan yang dimasak.

Proses menyetup terjadi perlahan lahan agar bahan makanan dapat melunak. Daging yang dimasak dengan cara ini biasanya dipotong agak kecil. Contoh masakan ini adalah opor ayam, gulai kambing, dan masih banyak lagi.

Menyetup juga dapat dilakukan pada buah buahan, dengan menggunakan air gula dan kadang-kadang diberi aroma dari cengkeh atau kayu manis.

3. Braising

Braising adalah metode memasak bahan makanan dengan menggunakan sedikit air atau kaldu. Braising cocok untuk memasak bahan makanan yang agak keras dan diiris tipis tipis untuk melembutkan serat seratnya.

Bahan makanan yang dapat dimasak secara braising adalah seperti daging sapi, ayam atau itik dan juga sayur sayuran.

Contoh masakan braising antara lain, ayam goreng kecap.

Contoh cara membuat ayam braising adalah sebagai berikut
  1. Ayam setelah dibersihkan dipotong potong sesuai selera dan digoreng dengan sedikit minyak sampai berwarna coklat.
  2. Masukan ayam goreng tersebut dalam panci dan tambahkan sedikit air atau kaldu, kemudian panaskan diatas api kecil atau di dalam oven.
  3. Pada waktu memanaskan, hendaknya panci dalam keadaan tertutup.

4. Mengukus

Mengukus atau steaming adalah teknik memasak bahan makanan dengan uap air mendidih.

Alat yang digunakan untuk melakukan teknik steaming atau mengukus adalah risopan, dandang dengan kukusan, langseng dan soblungan atau klakat. Cara ini lebih baik daripada merebus.

Contoh masakan dengan teknik steaming atau mengukus adalah nasi kukus dan pudding kukus atau steamed pudding.

5. Mentim

Mentim atau au bain marie adalah teknik memasak bahan makanan dengan menggunakan panci tim atau dua panci, yang satu lebih kecil sehingga dapat dimasukkan ke dalam panci yang lain.

Cara mentim memerlukan waktu lama. Contoh masakan dengan teknik mentim adalah nasi tim dan pudding roti.

6. Memblansir

Memblasir atau blanching adalah teknik merebus sebentar bahan makanan dalam air mendidih, dengan maksud untuk mengurangi rasa dan bau, misalnya lobak, isi perut, rebung, dan tulang untuk kaldu.

Bahan makanan yang akan diawetkan perlu diblansir supaya warnanya tetap baik, contohnya adalah cabe merah.

2. Teknik memasak kering

Ada beberapa jenis teknik memasak kering, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Memanggang

Memanggang adalah teknik memasak bahan makanan di atas api terbuka. Api tersebut diletakkan dibawah bahan makanan yang dimasak, sehingga menimbulkan aroma yang sedap. Api tidak boleh terlalu besar agar bahan makanan tidak hangus.

Bahan makanan yang dipanggang biasanya dalam bentuk kecil.

Dua Macam Cara Memanggang

Terdapat 2 macam cara memanggang yaitu griddling atau pan broiling dan roasting.

a. Griddling atau pan broiling

Griddling adalah memanggang di atas sebuah griddle yaitu lempengan besi rata yang diletakkan di atas perapian. Pan broiling adalah memanggang diatas sebuah wajan dadar.

Pada griddling maupun pan broiling perlu menggunakan minyak sedikit agar bahan makanan tidak melekat pada alat memasak. Meskipun dalam proses memasak digunakan metode griddling atau pan broiling nama masakan tetap menggunakan grilling atau broiling.

Istilah grilling digunakan di Inggris sedangkan broiling digunakan di amerika. Contoh masakan dengan teknik griddling atau pan broiling adalah macam-macam sate.

b. Roasting

Roasting adalah metode memasak dengan cara memanggang bahan makanan di dalam oven. Bahan makanan yang dipanggang biasanya daging atau ayam dalam bentuk besar, diletakkan di dalam panci atau loyang pemanggang (roasting pan), karena daging atau ayam berbentuk besar, maka selama di dalam oven sekali kali disiram dengan minyak atau air daging yang keluar selama dimasak.

Proses menyiram daging di dalam oven ini disebut basting. Contoh masakan dengan teknik Roasting adalah ayam panggang bumbu kecap.

2. Mengepan atau mengoven

Mengepan atau mengoven (baking) adalah memasak bahan makanan di dalam oven dengan panas dari segala jurusan.

Mengepan lebih tepat untuk memasak adonan roti dan kue. Contoh masakan dengan teknik mengepan atau mengoven adalah macam macam roti dan macam macam kue.

3. Menggongseng atau menyangan

Menyangan atau mengoseng adalah memasak bahan makanan tanpa minyak. Selain membuat masak bahan makanan, juga membuat aroma yang sedap.

Alat yang digunakan dalam menggoreng atau menyangan adalah wajan berdasarkan tebal atau kuali dari tanah liat. Seringkali digunakan pasir sebagai pengganti minyak agar panasnya rata. Bahan makanan yang disangrai misalnya kacang tanah, ketumbar dan kemiri.

Jenis Bahan Kemas Olahan Makanan Khas Daerah

Kemasan merupakan tahapan akhir dari sebuah produksi dan memegang peranan penting dalam usaha pengolahan makanan.

Makanan dengan tampilan yang menarik akan menggugah selera, karena untuk mengkonsumsi makanan pertama-tama pandangan mata yang bekerja, kemudian diikuti dengan indra penciuman untuk aroma, lalu kemudian lidah memberi indra rasa bekerja menghasilkan rasa nikmat.

Penyajian ataukah kemasan makanan dapat menjadi daya tarik konsumen untuk membelinya dan memakannya, oleh karena itu jenis, bentuk, warna, dan dekorasi kemasan perlu diperhatikan agar dapat memberikan tampilan unik, menarik, dan berkarakter pada penyajian dan kemasan produknya.

Budaya pengemasan makanan sebenarnya sudah dimulai sejak manusia mengenal sistem penyimpanan bahan makanan. Sistem penyimpanan bahan makanan secara tradisional diawali dari memasukkan bahan makanan ke dalam suatu wadah yang ditemuinya.

Makanan khas daerah di masa lampau, dikemas dengan menggunakan kemasan tradisional seperti menggunakan daun kelapa, daun pisang, kendil dari tanah liat, anyaman daun pisang, kelobot jagung (pelepah daun jagung), daun kelapa atau enau (aren), daun jambu air, daun jati, dan masih banyak lagi.

Sesuai dengan kemajuan jaman teknologi dan kebutuhan manusia, produk kemasanpun berkembang dengan pesat secara terus menerus. Hingga kini, masih banyak makanan khas daerah yang dikemas menggunakan kertas, plastik, kaca atau gelas, aluminium foil, dan ada juga yang dikombinasikan dengan kemasan tradisional.

Pengemasan dilakukan dengan tujuan untuk menyiapkan barang menjadi siap ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai.

Dengan adanya wadah serta pembungkus makanan, maka dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan makanan tersebut, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan, getaran.

Pengemasan juga berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan agar mempunyai bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi.

Sedangkan bagi promosi, wadah atau pembungkus berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Oleh sebab itu bentuk, warna, dan dekorasi dari kemasan perlu diperhatikan dalam perencanaannya.

Kriteria Pemilihan Wadah atau Kemasan

Ada beberapa kriteria tertentu, yang juga harus diperhatikan dalam pemilihan wadah penyajian atau kemasan, yaitu diantaranya adalah.
  1. Bahan kemasan atau wadah penyajian mampu melindungi isinya dari berbagai resiko dari luar
  2. Bahan kemasan tidak berbau
  3. Bahan kemasan atau wadah penyajian memiliki daya tarik terhadap konsumen.
  4. Bahan kemasan atau wadah penyajian mudah didapat.
  5. Dalam wadah atau kemasan dituliskan juga label yang memuat nama produk, tanggal,nama produsen, berat bersih, komposisi, merk dagang, tanggal kadaluarsa, efek samping.

Teknik Pengemasan Makanan

Pengemasan

Pengemasan yang pertama yang diketahui adalah pengemasan dengan menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia pada saat itu seperti.
  1. Keranjang dari alang-alang
  2. Kantong kulit atau bola tas
  3. Kotak kayu
  4. Vas tembikar
  5. Keramik amphorae
  6. Tong kayu
  7. Tas anyaman
  8. Dan masih banyak lagi.

Makanan tradisional suatu daerah mungkin berbeda dengan makanan khas dari daerah lain, sebagai contoh produk fermentasi dari ubi kayu di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal sebagai tape, sementara di Jawa Barat dikenal sebagai Peuyeum.

Perbedaan sebutan atau nama terhadap produk pangan tradisional serupa di berbagai daerah juga diikuti dengan perbedaan penggunaan kemasan untuk produk yang dimaksud.

Berbagai jenis kemasan makanan tradisional yang sering kita jumpai seperti kemasan dari daun pisang, kelobot jagung atau pelepah daun jagung, daun kelapa atau enau atau aren, daun jambu air dan daun jati.

Berikut ini adalah beberapa cara pengemasan makanan, seperti pada tabel di bawah ini.
Cara Mengemas Makanan Dan Bahan Kemasan Tradisional
Cara mengemasBahan kemasanNama Makanan
MenggulungDaun pisang
Daun bambu
Daun atau kelobot jagung
Lontong
Bacang
Dodol
MelipatDaun pisang
Daun jambu
Nagasari
tempe
Tape
MembalutDaun pisang
Daun kelapa
Lemper
leupeut
MenganyamDaun kelapaKetupat

Pengemasan bertujuan untuk melindungi makanan dari kerusakan, juga merupakan daya pikat bagi orang agar tergiur menikmatinya.

Dalam perkembangannya, manusia mulai menggunakan bahan kemasan yang dibentuk secara khusus untuk keperluan mengemas, yaitu dengan dibuatnya bahan kemasan dari kaca, kemudian dari perunggu.

Salah satu jenis makanan khas daerah yang dikemas dengan daun pisang seperti lontong.

Lontong termasuk makanan yang terbuat dari beras dan merupakan hasil inovasi yang bertujuan untuk menikmati nasi dalam bentuk lain.

Secara umum lontong merupakan makanan yang dimasak dan dikemas dengan menggunakan daun pisang. Tapi sekarang, karena sudah semakin langka atau sulitnya mendapatkan daun pisang, kemasan lontong kini dikreasikan dengan memakai plastik.

Mungkin rasa lontong dengan bungkus atau kemasan plastik tidak lagi seenak yang dibungkus menggunakan daun pisang.

Untuk mereka yang mempunyai banyak pohon pisang di kebun, memakai daun pisang sebagai bungkus lontong mungkin menjadi pilihan yang cukup baik. Tapi perlu diingat, tidak semua daun pisang baik digunakan untuk mengemas, dikarenakan sifat fisik yang berbeda terutama sifat fleksibilitas.

Cara penggunaannya dapat secara langsung atau melalui proses pelayuan terlebih dahulu, tujuannya adalah untuk lebih melenturkan daun sehingga mudah untuk dilipat dan tidak sobek atau pecah.

Sama halnya pada pengemasan tape ketan. Tape ketan banyak mengandung air, sehingga dengan permukaan yang licin, rendah menyerap panas, kedap air dan udara, maka cocok untuk digunakan untuk mengemas.

Berikut ini adalah resep serta cara memasak atau membuat lontong dengan daun pisang.
a. Bahan-bahan:
  1. Untuk bahan utama membuat lontong
    1. Beras ½ kg
    2. Daun pisang untuk membungkus, secukupnya
    3. Air untuk merebus, secukupnya
    4. 500 ml Santan
  2. Untuk bahan isi (dapat diganti sesuai dengan selera)
    1. ¼ kg wortel
    2. ¼ kg kentang
b. Cara memasak atau membuat lontong dengan daun pisang
  1. Pertama-tama buat bahan untuk isi lontong. Kupas kentang dan wortel. Kemudian potong-potong sebesar dadu. Kukus kentang dan wortel tersebut hingga empuk.
  2. Langkah selanjutnya buat bahan utama pembuatan lontong. Rebus santan hingga mendidih. Masukkan beras yang sudah dicuci bersih. Tambahkan garam. Aduk-aduk terus sampai santan dalam panci kering
  3. Siapkan daun pisang yang tidak terlalu tua sebagai pembungkusnya. Buang bagian sisi daun pisang. Bersihkan daun pisang dengan lap kering. Lalu potong-potong ukuran lontong sesuai selera, biasanya ukuran kurang lebih 30×20 cm.
  4. Langkah selanjutnya, ambil selembar daun pisang. Letakkan satu sendok adonan lontong di atas daun tersebut. Pipihkan aronan beras di atas daun dengan menggunakan sendok. Masukkan bahan isi. Kemudian tutup dengan adonan beras.
  5. Rapihkan adonan beras yang telah diisi hingga berbentuk silinder. Gulung daun sampai habis.
  6. Kemudian tutup salah satu ujung gulungan daun pisang tersebut dengan melipat kedua sisinya. Buatlah dalam jumlah banyak.
  7. Langkah selanjutnya adalah memasak lontong tersebut dengan cara mengukus. Masukkan air ke dalam panci. Susun bakal lontong tersebut di dalam panci. Kemudian kukus lontong selama kira-kira 2 jam.
  8. Jika lontong telah matang, angkat lontong dan tiriskan airnya hingga hilang atau menetes agar lontong padat, kenyal dan tidak mudah basi.

 

Masuk ke akun kamu

REK. BRI A.n yayasan darma bakti karya
401901007247533