Konsep pendidikan multikultural menjadi pedoman dalam sistem pendidikan yang diregulasikan oleh pihak lembaga, mempermudah proses pendidikan di sekolah guna sebagai tanda nyata bahwa sekolah tersebut bisa terus beroperasi dalam hal pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan sistem pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan objek penelitian. Metode pendidikan yang di regulasikan oleh SMK Bakti karya Parigi terdapat dua konsep pendidikan, konsep pertama dengan implementasi merdeka belajar pada kelas 10 dan kelas 11 beserta 12 menggunakan konsep pendidikan dengan tiga materi khusus. Materi khusus tersebut terdiri dari bidang ekologi, humaniora dan multimedia.
Pendahuluan
Sedikitnya selama tiga dasawarsa, kebijakan yang sentralistis dan pengawalan yang ketat terhadap isu perbedaan telah menghilangkan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, membicarakan dan memecahkan persoalan yang muncul dari perbedaan secara terbuka, rasional dan damai. Kekerasan antar kelompok yang meledak secara sporadis di akhir tahun 1990- an di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan betapa rentannya rasa kebersamaan yang dibangun dalam NegaraBangsa, betapa kentalnya prasangka antara kelompok dan betapa rendahnya saling pengertian antar kelompok.
Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat “multikultural”. Tetapi pada pihak lain, realitas “multikultural” tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali “kebudayaan nasional Indonesia” yang dapat menjadi “integrating force” yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang paling urgen untuk dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana gambaran pendidikan multikultural, dan bagaimana konsep pendidikan multikultural.
TINJAUAN PUSTAKA
Secara sederhana multikulturalisme bisa dipahami sebagai pengakuan, bahwa sebuah negara atau masyarakat adalah beragam dan majemuk. Dapat pula diartikan sebagai kepercayaan kepada normalitas dan penerimaan keragaman. Pengertian tentang multikulturalisme setidaknya mengandung dua pengertian yang sangat kompleks yaitu multi yang berarti plural, kultural berisi pengertian kultur atau budaya. Istilah plural mengandung arti yang berjenis-jenis, karena pluralisme bukan berarti sekedar pengakuan akan adanya hal hal yang berjenis, namun pengakuan yang memiliki implikasi-implikasi politis, sosial dan ekonomi. Oleh sebab itu pluralisme bersangkutan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pendidikan multikultural yang dikemukakan oleh James A. Banks adalah konsep pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik tanpa memandang gender dan kelas sosial, etnik, ras, agama, dan karakteristik kultural mereka untuk belajar di dalam kelas.
Dalam konteks deskriptif ini, maka kurikulum pendidikan multkultural harus mencakup subjek-subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan etno-kultural, dan agama; bahaya diskriminasi; penyelesaian konflik dan mediasi; HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Pendidikan merupakan sebuah wadah dalam pengebangan diri manusia dalam bidang pengebangan pengetahuan secara umum dan keterampilan yang berdasarkan kriteria lembaga pendidikan.. Konsep pendidikan merupakan serangkaian peraturan yang disusun secara terstruktur dalam melaksanakan sebuah rangkaian pembelajaran di lembaga pendidikan.. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan sebuah lembaga pendidikan yang memiliki fokus pembelajaran dalam hal keterampilan, dan pendidikan umum yang di regulasikan oleh dinas pendidikan untuk dialokasikan di jenjang SMK.
Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Esensi kemerdekaan berpikir, menurut Nadiem, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Merdeka belajar adalah program kebijakan baru dari Kemendikbud RI yang dicetuskan oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Transformasi pendidikan melalui kebijakan merdeka belajar merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan SDM Unggul Indonesia yang memiliki Profil Pelajar Pancasila. Merdeka belajar ditujukan untuk jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah seperti SMP/SMA/SMK/Sederajat. Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
METODE PENELITAN
Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menjelaskan hasil penelitian, dan disandingkan dengan sebuah peraturan atau landasan teori dari objek penelitian beserta realita sosial di lingkungan objek penelitian. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan dengan cara wawancara terhadap objek penelitian pada wakasek kurikulum di SMK Bakti Karya Parigi, dengan pengelolaan data sesuai dengan kriteria penyajian secara deskriptif dalam penulisan hasil wawancara.
PEMBAHASAN
Konsep pendidikan multikultural di jadikan sebagai landasan pelaksanaan pembelajaran yang digunakan oleh guru terhadap peserta didik, dan tersusun secara struktural dengan ketentuan yang sesuai dengan regulasi dari pemerintah dan pihak yayasan. Konsep yang digunakan di sekolah SMK Bakti Karya Parigi terbagi menjadi dua konsep pembelajaran, konsep yang pertama diberlakukannya kebijakan dari merdeka belajar yang direalisasikan untuk kelas 10 dan mengacu pada kurikulum 2013 revisi dengan modipikasi pemahaman kurikulum dan penggunaanya.
Konsep merdeka belajara yang di regulasikan di sekolah tersebut mencakup keriteria pengaplikasian kurikulum merdeka, dengan memberikan kesempatan penuh bagi peserta didik untuk memilih mata pelajaran yang sanggup di kerjakan. Menjadi sebuah pembeda yang di anjurkan oleh pemerintah, maka di sekolah SMK Bakti Karya tersebut, mengaplikasikan kurikulum merdeka dengan sangat berpokus pada pemilihan pembelajaran sepenuhnya pada perserta didik. Konsep yang di terapkan pada tingak 11 dan 12 di SMK Bakti Karya Parigi terdapat konsep penting dalam pembelajaran yang terdirid ari tiga bagian, bagian – bagian pembelajaran tersebut diantaranya bidang ekologi, Humaniora, dan Multimedia.
Bidang ekologi merupakan konsep pembelajaran dengan memiliki materi yang berhubungan dengan pengetahuan umum dalam bidang biologi, matematika, dan pengetahuan umum. Bidang humaniora mempelajari aspek kebudayaan dan agama yang berada di Indonesia dan secara internal di lembaga pendidikan SMK Bakti karya Parigi. Bidang multimedia yang direalisasikan oleh pihak sekolah berada pada bidang programmer dan komponen dalam setiap alat yang digunakan dalam pembelajaran multimedia.
KESIMPULAN
Konsep pembelajaran yang direalisasikan oleh pihak lembaga pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan Bakti karya Parigi, terdapat dua konsep yang digunakan. Konsep pembelajaran diregulasikan untuk mengatur jalannya pembelajaran di sekolah tersebut, supaya visi dan misi sekolah bisa tercapai dari segi pendidikan akademik dan kejuruan dalam bidang multimedia. Konsep yang digunakan di sekolah SMK Bakti Karya Parigi di antaranya implementasi merdeka belajar, dan konsep humaniora, beserta keterampilan multimedia. Kurikulum merdeka berlaku untuk peserta didik kelas 10 dan untuk kelas 11 sampai 12 menggunakan sistem kurtilas dengan pembelajaran yang memiliki materi umum dan keagamaan serta pendidikan keterampilan.
DAFTAR PUSTAKA
Evi Hasim. “Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Perguruan Tinggi Di Masa Pandemi Covid-19.” Prosiding Webinar Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo “Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Penulisan Karya Ilmiah Menuju Anak Merdeka Belajar” 12, no. 1 (2020): 68–74. file:///C:/Users/Lenovo/Downloads/403-1002-1-PB.pdf.
Fakhrurrazi, Fakhrurrazi. “Hakikat Pembelajaran Yang Efektif.” At-Tafkir 11, no. 1 (2018): 85–99. https://doi.org/10.32505/at.v11i1.529.
Nurkholis. “PENDIDIKAN DALAM UPAYA MEMAJUKAN TEKNOLOGI Oleh: Nurkholis Doktor Ilmu Pendidikan, Alumnus Universitas Negeri Jakarta Dosen Luar Biasa Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto” 1, no. 1 (2013): 24–44.
Priandono, Fifin. “Manajemen Humas Pendidikan Dalam Upaya Pencitraan Sekolah Di Sekolah Menengah Kejuruan.” At-Ta’lim : Media Informasi Pendidikan Islam 18, no. 2 (2019): 395.
Rustam Ibrahim. “PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Pengertian, Prinsip, Dan Relevansinya Dengan Tujuan Pendidikan Islam.” Addin 7, no. 1 (2013): 129–54. http://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Addin/article/view/573%0Ahttp://dx.doi.org/10.21043/addin.v7i1.573.
Vhalery, Rendika, Albertus Maria Setyastanto, and Ari Wahyu Leksono. “Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka: Sebuah Kajian Literatur.” Research and Development Journal of Education 8, no. 1 (2022): 185. https://doi.org/10.30998/rdje.v8i1.11718.
Abdullah. (2011). Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Agil. (2004). Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Tillar. (2004). Multikulturalisme, Tantangan Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.Zakiyuddin. (2005). Pendidikan Agama: Membangun Multikulturalisme Indonesia, dalam Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: Gelora Aksara Pratama.
Artikel ini ditulis oleh mahasiswa STITNU Al Farabi Prodi Manajemen Pendidikan Islam : Alif Syekhul Munir, Irma Royani, Siti Patimah





