SBK Adalah Anak Tangga Pertama

Gara-gara jadi alumni SMK Bakti Karya Parigi (SBK) aku gagal jadi introvert.

Sebelum mencicipi bangku kuliah, aku sudah menyiapkan banyak hal. Mulai dari manajemen waktu, tabungan pengetahuan, sampai persiapan adaptasi di kota. Aku yang seorang introvert (kepribadian dengan kecenderungan suka menyendiri) bisa menebak bahwa kehidupan perkuliahanku akan biasa-biasa saja.

Sebelumnya, perkenalan namaku Elin Sri Handayani alumni angkatan Ke-4 Kelas Multikultural. Lulus dari SBK aku melanjutkan pendidikan di Politeknik Tempo melalui beasiswa PLN.

Akan selalu ada pembuka pintu gerbang pertama di keluarga, termasuk gerbang pendidikan. Aku adalah orang pertama dalam silsilah keluarga yang menempuh pendidikan SMP, SMK, dan kini melanjutkan ke perguruan tinggi. Tak hanya itu, aku pun selalu menjadi pelajar tunggal dari daerah asalku, Banten. Awalnya hal tersebut sedikit membuatku takut didiskriminasi, makanya aku lebih suka menyendiri. Namun untungnya, hal tersebut tak pernah terjadi.

Gagal Menjadi Mahasiswa Kupu-Kupu
Menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) seakan bukan takdir bagiku. Padahal aku sudah mencoba untuk tidak berbaur dengan banyak orang. Fokusku hanya belajar, menjawab pertanyaan jika ditanya saja, dan membaca buku dekat jendela ketika jam istirahat.

Bahkan, rencana hanya menjadi sekedar anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi pun sudah diniatkan. Dosen bertanya, “Siapa yang pernah berorasi,” aku tidak pernah mengangkat tangan. Meski sebenarnya sudah 4 kali aku melakukan orasi dalam hari penting saat di SBK (SMK Bakti Karya).

Menjadi introvert, tidak menonjol, dan hanya fokus di akademik adalah image yang ingin kubangun. Namun ternyata nihil. Walau sudah lulus dari SMK Bakti Karya Parigi, jiwa yang ditanamkan oleh sekolah tersebut masih tetap tumbuh. Saat rapat organisasi atau UKM misalnya, aku selalu greget ketika menyimak persentasi program, atau saat pelaksanaan projek. Menyanggah dan memberi saran tidak bisa ditahan jika sudah seperti itu.

Sehingga, baru juga semester 1 sudah diminta menjadi anggota inti dalam HIMA (Himpunan Mahasiswa Produksi Media) dan dalam UKM Perfilman. Dosen juga menyebut aku “Si Orator”.

Dan, baru saja kemarin aku diminta menjadi MC dadakan, tanpa latihan, dalam acara Workshop Sinematografi Politeknik Tempo. Sejak saat itu, dosen akhirnya memintaku untuk menjadi MC lagi jika ada acara Workshop atau Visit Kampus.

Mengenyam pendidikan di SMK Bakti Karya Parigi memang membangun karakter khas, jiwa kepemimpinan, dan percaya diri. Banyak bekal yang didapat. Mulai dari dibiasakan merancang dan melaksanakan kegiatan, menumbuhkan relasi, kreatifitas, percaya diri, dan menyelesaikan persoalan.

Salah satu guruku di SBK pernah bilang, “Jika berkegiatan diluar sekolah, maka jangan sampai tidak nambah nomor dalam kontak handphone”. Kalimat tersebut masih ku praktikan sampai sekarang. Ketika mahasiswa lain pergi ke kantin setelah kuliah umum, aku malah menghampiri dosen tamu untuk meminta kontaknya. Bagaimana tidak, yang diundang selalu orang-orang keren dari perusahaan besar dan pegawai pemerintah.

Tabungan portofolio sejak SMK juga menjadi alasan aku sering lolos dari pada mahasiswa lain ketika mendaftar volunteer. Saat di SBK, guru tidak jarang memberi tugas untuk membuat video maupun film. Maka, ketika di kampus ada tugas pembuatan film, sudah tidak pusing lagi. Bahkan naskah-naskah film yang tidak sempat digarap saat di SMK, dipelajari untuk pembuatan projek film di UKM.

Terima kasih warga SMK Bakti Karya Parigi sudah membuatku belajar banyak hal. Tidak tertinggal satu pesan untuk teman-teman SBK. Manfaatkan apa yang sudah tersedia, jika belum ada maka tumbuhkan. Tabung bekal sebelum benar-benar menghadapi dunia luar. Semangat!

Berikan Tanggapan

SMK Bakti Karya Parigi berupaya melibatkan semua pihak untuk merencanakan, menjalankan dan mengawasi lembaga pendidikan ini. Jika anda memiliki kritik, masukan dan saran atas informasi ini , silahkan tinggalkan tanggapan melalui form di bawah.

Masuk ke akun kamu

SUPPORT US